MEMAAFKAN ITU MENENTERAMKAN

Memberi maaf, sebenarnya tidak sulit, walaupun tidak bisa dikatakan mudah. Tidak sulit jika masalah yang terjadi hanyalah kasus-kasus yang ringan atau sepele. Begitu juga andaikan yang akan dimaafkan adalah orang tersayang, buah hati, anak dan keturunan. Dalam kasus seperti ini, memaafkan itu dapat dikatakan gampang. Namun bagaimana jika yang terjadi adalah kasus ‘berat’? Atau mereka yang akan dimaafkan tidak ada hubungan khusus dengan kita? Atau, mudahkah memaafkan mereka yang telah berulang-ulang melakukan kesalahan yang sama? Untuk semua pertanyaan itu, jawaban yang muncul biasanya adalah, memaafkan itu berat.

            Ya, memberi maaf, pada umumnya merupakan hal yang sulit untuk dilakukan, terutama dalam kasus-kasus yang berat. Akan terlalu banyak pertimbangan yang muncul untuk melakukannya dengan mudah. Dalam konteks ini, banyak orang yang justru memilih tidak memaafkan sembari menumpahkan kekesalan dan kekecewaan yang ada kepada mereka yang dianggap bersalah.

            Memberi maaf, menurut beberapa ahli, sebenarnya sangat tergantung pada pribadi masing-masing. Demikian juga dengan faktor besar dan kecilnya sebuah persoalan. Ada orang yang sangat mudah memaafkan, semudah membalikkan telapak tangan, namun ada pula yang sangat sulit memberi kemaafan. Tipe pertama ini adalah orang yang tidak bisa berlama-lama memelihara kemarahan, karena pada dasarnya ia adalah pribadi yang tidak menyukai konflik dan permusuhan, apalagi memelihara dendam. Sebaliknya, mereka yang masuk dalam tipe kedua, sangat sulit membuka pintu maaf untuk orang lain, meskipun dalam peristiwa yang kecil dan sepele. Kasus yang paling sederhana sekalipun mampu membuatnya menyimpan kemarahan dan memelihara dendam berlama-lama. Bagi orang-orang seperti ini, sebuah pertentangan dianggap sebagai pertarungan. Memberi kemaafan berarti kalah dalam pertarungan.

Kemaafan tidak dapat dilepaskan dari kepribadian dan latar belakang kehidupan seseorang. Trauma masa lalu misalnya, karena sejak kecil dituding atau dipersalahkan, dapat membuat seseorang sangat mudah menghunjamkan kesalahan kepada orang lain dan menjadikannya sebagai dendam masa lalu. Disamping itu, orang yang sangat protektif, akan melindungi dirinya dengan ‘selubung harga diri’ yang berlebihan. Orang seperti ini akan sangat sulit untuk memberi kemaafan, karena bagi dirinya, memberi maaf berarti menjatuhkan harga diri.

            Menolak memberikan kemaafan, sembari tetap memendam kemarahan, kedongkolan dan kekesalan, sesungguhnya merupakan siksaan yang sangat mengganggu. Mereka yang tidak rela memaafkan, seringkali merasakan kemarahan yang membesar memenuhi dadanya sehingga tentu saja akan menyiksa dirinya sendiri. Ia juga secara terus menerus akan menyalahkan orang lain yang dianggap sebagai ‘biang kerok’ persoalan. Padahal beban terbesar justru terdapat pada ketidakrelaannya dalam memberikan kemaafan. Pada kasus yang lebih dahsyat, bahkan ada orang yang secara kontinu ‘memelihara’ kemarahan pada sesuatu yang sebenarnya sudah layak terhapuskan dari memorinya, seperti sudah berubahnya kondisi yang dulu pernah menyakitkan dan si pembuat kesalahan sekarang sudah menjadi lebih baik atau bahkan sudah meninggal dunia. Jika demikian halnya, maka pada akhirnya yang menjerat seseorang dalam posisi dalam ketidaknyaman dan ketidaktenangan ini, adalah persoalan dengan dirinya sendiri yang tidak mau membuka hati untuk memaafkan.

Memberi maaf, sesungguhnya bukanlah semata-mata persoalan melantunkan kalimat ‘kumaafkan dirimu’, namun lebih jauh dari itu, memaafkan berarti membebaskan diri dari kondisi tertekan serta kepungan pikiran negatif. Tidak memberikan kemaafan sama artinya dengan mempertahankan pikiran buruk terus berkembang dan tanpa sadar telah mengabaikan hal-hal positif yang sebenarnya dapat memperbaiki keadaan menjadi lebih baik.

Kemaafan yang tulus akan menghapus beban pikiran misalnya bayangan buruk tentang sebuah masalah. Ia juga akan menyokong kita untuk menjalin hubungan harmonis dengan orang lain serta memudahkan untuk berinteraksi dengan berbagai lapisan masyarakat. Bahkan memaafkan akan memancarkan aura yang cerah pada wajah, sebab di sana tidak ada kepura-puraan yang harus disembunyikan. Ingat, kepura-puraan hanya akan menimbulkan beban di hati.

Memberi maaf memang terasa menyulitkan, namun apabila telah dilakukan dengan ikhlas, batin akan terasa jauh lebih ringan. Jiwa akan menjadi lebih tenang. Dalam banyak kasus dimana pihak atau kondisi yang salah sudah tidak dapat diperbaiki kembali, memberi maaf dapat dilakukan untuk menolong diri sendiri. Tidak saatnya lagi kita harus terjebak dalam rasa dendam yang tidak lagi memberikan makna apa-apa.

Salah satu hal yang penting dan mendasar dalam membangun kebersamaan serta menjalin hubungan kemanusiaan dengan sesama adalah adanya kelapangan jiwa untuk memaafkan kesalahan orang lain. Kelapangan jiwa ini secara nyata memiliki maksud yang suci dan implikasi psikologi yang mendalam sekaligus merupakan perpaduan antara keteguhan hati dan kekuatan fikiran. Mereka yang senantiasa berjiwa lapang untuk memberikan kemaafan akan merasakan ketenangan batin yang sedemikian indah. Hal ini terjadi karena seluruh tekanan jiwa yang menyumbat segenap pembuluh darah seakan-akan terbuka. Potensi jiwa ini akan semakin tumbuh dengan baik sehingga akan mampu menekan kekuatan hawa nafsu yang mengungkung diri dalam kepicikan dan ketidakbahagiaan.

Memaafkan kesalahan dan kekhilafan orang lain memang bukan pekerjaan ringan terutama bagi mereka yang memiliki watak dan kepribadian yang telah dibungkus oleh kebencian, kekerasan, dan dendam kesumat. Selain berpengaruh pada jiwa si pemberi maaf, memaafkan juga akan berpengaruh kuat pada orang yang dimaafkan sehingga mampu merubah fikiran serta perilakunya meskipun ia pada awalnya adalah seorang musuh.

Menurut Sayyid Musawi Lari dalam bukunya Psikologi Islam, bakat terbesar manusia yang tidak dimiliki oleh hewan adalah sifat pemaaf dan melupakan kesalahan orang lain. Ketika Anda dirugikan orang lain, Anda memiliki kesempatan yang baik untuk memaafkan dan menikmati perasaan batin atas sifat yang mulia ini. Melakukan tindakan balas dendam terhadap lawan, akan menempatkan diri Anda pada tempat yang sejajar dengan musuh, kerana telah melakukan hal yang sama. Akan tetapi Anda akan mendapatkan kemuliaan jika mau memaafkan kesalahannya. Menghadirkan sifat pemaaf akan memaksa musuh-musuh untuk bertekuk lutut karena ia memiliki pengaruh pada psikologi dan mengajarkan sifat rendah hati.

Salah satu beban psikologis yang begitu berat dirasakan dan berbahaya bagi kehidupan manusia adalah permusuhan dan memendam perasaan benci terhadap orang lain. Kebencian dan permusuhan ini berawal dari konflik mental yang tentu saja mempengaruhi seluruh struktur kesadaran berfikir manusia dan dapat merusak keseimbangan jiwa. Beban berat dan membahayakan ini dapat mempengaruhi kebahagiaan dan ketenangan manusia, sehingga pada gilirannya ia akan kehilangan sensitifitasnya dan berusaha melakukan tindakan balas dendam dengan berbagai cara yang memungkinkan, untuk merugikan orang lain.

Permusuhan, memiliki akibat-akibat yang menyakitkan dan sukar untuk mendapatkan penawarnya. Seseorang dapat mengorbankan kesadarannya karena pengaruh kebencian dan permusuhan dan merambah hampir ke seluruh organ tubuhnya sehingga menimbulkan bencana bagi dirinya sendiri. Sifat dendam ketika memiliki kekuatan dalam diri manusia akan memberikan pengaruh yang demikian besar dalam meruntuhkan hubungan kemanusiaan. Orang yang dengki dibebani dengan sejenis perasaan tanpa belas kasih dan kehilangan sifat pemurahnya. Di samping sangat mudah marah dan tersinggung juga dapat melumpuhkan semua ruang-ruang kebajikan karena siksaan penderitaan rohani yang mendalam dan terus menerus.

Dr. Dale Carniege menulis dalam bukunya, How to Win Friends and Influence People, “Ketika kita menyembunyikan kebencian dan permusuhan di dalam hati terhadap musuh-musuh kita, sebenarnya kita sedang menjaga aktifitas kehidupan kita sendiri seperti makan, minum, tidur, kesehatan, kebahagiaan bahkan tekanan darah kita. Kebencian kita terhadap mereka tidaklah melukai mereka sedikitpun, melainkan justru mengubah kehidupan kita menjadi neraka sepanjang waktu. Wallahu a’lam.

Rasulullah. pernah berpesan kepada Uqbah untuk memberikan kemaafan atas kesalahan yang diperbuat orang lain pada dirinya. “Ya Uqbah, maukah kuberitahukan padamu tentang akhlak penghuni dunia dan akhirat yang paling utama? Yaitu menyambung silaturahmi terhadap orang yang memutuskan hubungan denganmu, memberi orang yang menahan pemberiannya kepadamu, dan memaafkan orang yang pernah menganiayamu”. (H.R. Hakim).

Harus diakui sejujurnya bahwa menjadi seorang pemaaf bukanlah sebuah hal yang mudah dan ringan layaknya membalikkan telapak tangan. Ia memerlukan perjuangan dan kesungguhan untuk mencapainya. Sebaliknya sifat pemarah yang senantiasa berusaha mengeliminir atau meniadakan sifat pemaaf dari dalam diri seseorang terasa lebih enteng untuk dilakukan serta lebih mudah untuk dijalankan. Nyatanya kedua sifat ini saling berlomba untuk mendapatkan tempat yang lebih dominan di dalam diri setiap manusia.

وَلَمَن صَبَرَ وَغَفَرَ إِنَّ ذَلِكَ لَمِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ

 “Tetapi, orang-orang yang bersabar dan suka memaafkan, sesungguhnya (perbuatan yang demikian itu) termasuk pekerjaan yang berat (diutamakan)”. (QS: Asy-Syura, : 43).

Orang yang tidak mempunyai sifat pemaaf, maka dirinya sangat rentan untuk dihinggapi penyakit-penyakit hati yang awalnya berpangkal dari kemarahan dan dendam. Tidak jarang ketika seseorang marah, maka ia akan melakukan dan menghalalkan segala cara untuk melampiaskan kemarahannya. Sifat marah ini pada akhirnya akan bermuara kepada fitnah, hasad, iri hati, bahkan pada tindakan kekerasan secara fisik. Emosi manusia mudah terpengaruh untuk melakukan berbagai tindakan yang bagi sebagian orang masih dianggap wajar dan logis, padahal sebenarnya ketika itu kita emosi dan perasaan kita sedang melakukan keburukan karena sedang dikendalikan oleh nafsu dan setan.

 Orang yang mampu menguasai dirinya dari sifat-sifat tercela seperti fitnah, hasad dan iri hati, yang berpangkal dari kemarahan, tentu saja akan mendapatkan berbagai keutamaan dari Allah. Wallahu a’lam.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan. Required fields are marked *