Pemberian nama Masjid ini dengan nama AT-TIN yakni Tin, yang diantara ayat-Nya menyebutkan penciptaan manusia sebagai ciptaan yang paling canggih, paling sempurna, paling etis. “Laqod Kholaqnal Insana fii ahsani taqwim” Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.

Namun buah Tin, buah yang sangat lezat dan manis itu, akan cepat buruk, busuk, berulat, jika tidak dipelihara. Manusia juga demikian, itulah sebabnya setiap muslim kemudian diperintah untuk menghiasi hidupnya dengan iman dan amalan-amalan soleh yang harus dimulai sejak dini, kanak-kanak dan secara terus-menerus serta konsisten hingga akhir hayat tiba.

Bagi keluarga yang membangun masjid ini, pemilihan nama Masjid Agung At-Tin yang diilhami dari surat At-Tin, kemudian juga mengingatkan kepada ibunda yang sangat mereka cintai, yakni Ibu Hj. Fatimah Siti Hartinah Soeharto (Ibu Hj. Tien Soeharto), maka hal itu adalah suatu kebetulan yang harus disyukuri pula.

Demi At-Tin, Az-Zaitun, Thur Sina, dan Kota (Mekkah) yang aman ini. Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk fisik yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan ia ke tempat yang serendah-rendahnya, kecuali orang-orang beriman dan beramal shaleh…(Q.S. At-Tin :1-7).

Masjid terambil dari akar kata sujud yang berarti taat, patuh, dan tunduk dengan penuh hormat. Meletakkan dahi, kedua telapak tangan dan jari-jari kaki adalah bentuk lahiriah yang paling nyata dari makna-makna diatas.

Dari sini bangunan yang secara umum digunakan untuk sujud, shalat dan mengabdi kepada Allah, Tuhan Yang Maha Esa, dinamai masjid, yang juga terambil dari akar kata sujud.

Dari akar katanya, dipahami bahwa masjid bukan hanya berfungsi sebagai tempat meletakkan dahi yakni sujud dalam bentuk shalat, tetapi juga adalah tempat melakukan aktifitas yang mengandung makna kepatuhan kepada Allah SWT, atau paling tidak tempat mendorong lahirnya aktifitas yang menghasilkan kepatuhan kepada-Nya.

Karena itu, Nabi Muhammad SAW bersabda, “telah dijadikan untukku dan umatku seluruh persada bumi sebagai masjid dan sarana penyucian”. (H.R. Bukhori dan Muslim melalui Jabir bin Abdillah). Disini sekali lagi, bertemu dengan kata sujud dan masjid, dan terpadunya aktifitas sujud yakni kepatuhan kepada Allah dan fungsi serta peranan masjid.

Semua yang dapat mengantar manusia pada kepatuhan kepada Allah merupakan bagian dari aktifitas kemasjidan. Karena itu, dimasa Rasulullah SAW, Masjid Nabawi di Madinah memiliki tidak kurang dari sepuluh fungsi, dan berperan sebagai tempat :

  • Shalat dan zikir
  • Pendidikan
  • Santunan Sosial
  • Konsultasi dan komunikasi ekonomi, sosial, budaya.
  • Pengadilan dan Penyelesaian sengketa
  • Pusat Penerangan
  • Latihan Militer
  • Tahanan
  • Tempat Penampungan

Kesemuanya diarahkan sesuai dengan keberadaan masjid sebagai tempat sujud kepada Allah dalam pengertiannya yang luas.

Tentu saja dewasa ini, akibat perubahan zaman dan perkembangan masyarakat, sebagian fungsi-fungsi tersebut telah diambil oleh lembaga-lembaaga lain. Kendati demikian, paling tidak dari masjid harus lahir uraian dan aktifitas yang mengarahkan manusia kepada sujud, patuh dan tunduk kepada Allah SWT, karena semua masjid adalah milik-Nya. Firman Allah SWT “Dan sesungguhnya masjid-masjid adalah milik Allah, maka janganlah engkau menyembah bersama Allah sesuatu sembahan pun”. (Q.S. Al-Jin :18)

Memilih nama bagi sesuatu antara lain untuk menggambarkan sifat dan fungsi utamanya, harapan-harapan yang dikandung dari kehadirannya, sekaligus mengingatkan pemberi dan penerima nama tentang fungsi dan harapan-harapan itu.

Masjid Agung At-Tin itulah nama yang dipilih untuk masjid ini. Nama itu sama dengan dan diinspirasi oleh nama salah satu surah Al-Qur’an yakni surah At-Tin yang merupakan wahyu ke-27 yang diterima oleh Nabi Muhammad SAW dan surah ke-95 dari segi runtutan penulisannya dalam Al-Qur’an.

At-Tin adalah sejenis buah, bahkan salah satu buah yang terbaik. Banyak manfaatnya, baik sebelum matang maupun sesudahnya, lezat rasanya, sangat manis, penuh gizi, mudah memakan dan mencernanya dan tanpa biji yang perlu dibuang.

Khasiatnya tidak sedikit, antara lain memperlancar darah, menghancurkan batu disaluran kencing, mengencerkan dahak, dan masih banyak lagi lainnya.

pohon Tin
POHON TIN

Konon, ketika Adam dan pasangannya, mencicipi buah terlarang di surga, yang mengakibatkan mereka telanjang, mereka menggunakan daun pohon At-Tin untuk menutup apa yang nampak dari aurat mereka (Q.S Al-A’raf :22). Demikian At-Tin mereka manfaatkan untuk menutup aurat yang nampak atau dampak buruk dari ulah setan.

Pernah ketika Nabi Muhammad SAW dihadiahkan sekeranjang buah Tin, beliau makan dan mempersilahkan sekeliling beliau memakannya sambil bersabda, “seandainya saya berkata ada buah yang turun dari surga, maka buah inilah yang saya sebut”.

Tetapi ada sisi lain dari buah ini yang tidak ditemukan dari banyak buah, yaitu bila telah membusuk salah satu bagiannya, maka ia sudah tidak dapat dimakan atau dimanfaatkan, dan seluruhnya harus dibuang. Persis seperti manusia, jika hatinya telah rusak, maka tidak akan ada lagi manfaatnya.

“Sesungguhnya dalam diri manusia ada segumpal daging, kalau baik, baiklah seluruh tubuh”. atau seperti manusia yang dikembalikan Allah ke asfala safilin (Q.S At-Tin :6) yakni kepada keadaan ketika ruh Ilahi belum lagi dihembuskan dan menyatu dalam diri manusia. Ketika itu, manusia baru berbentuk fisik manusia. Ia baru tercipta dari debu tanah, yang hanya mendorongnya untuk memenuhi kebutuhan jasmani terlepas dari dorongan ruh Ilahi.

Sebagian Mufassir mengatakan bahwa At-Tin adalah “Masjid Ashabul Kahfi”. Ibnu Abbas, seorang penafsir besar, mengatakan bahwa At-Tin adalah masjid yang letaknya berada di Damsyiq (Dimasyq).

Dengan demikian, sumpah Allah tentang penciptaan manusia dalam bentuk fisik dan psikis yang sebaik-baiknya dikukuhkan dengan menyebut tempat-tempat tokoh agama terbesar dewasa ini, mendapat bimbingan ilahi.

Memang inti pesan surah At-Tin adalah hakekat fitrah yang lurus, yang atas dasarnya Allah menciptakan manusia serta kesesuaian unsur dasar naluri manusia dengan substansi iman, demikian tulis Sayyid Qutub dalam tafsirnya.

Dengan kata lain, inti pesannya adalah tauhid,yakni kepercayaan akan ke-esaan Allah SWT yang merupakan hakekat yang melekat pada diri setiap insan. Itulah yang menjadikan makhluk ini berpotensi untuk mencapai tingkat ahsan taqwim, yaitu bentuk fisik dan psikis yang sebaik-baiknya.

Karena itu, surah At-Tin ini sekaligus juga menjelaskan hakekat manusia sebagai satu-satunya makhluk eksitensialis. Martabat manusia bisa naik menjadi makhluk utama (ahsan taqwim) dasn bisa turun menjadi makhluk hina (asfala safilin).

NAMA AT-TIN

Penamaan masjid ini dengan Masjid At-Tin melukiskan peran utama yang diembannya, yaitu memelihara dan mengaktualkan fitrah kesucian yang melekat pada jiwa manusia guna melahirkan kegiatan-kegiatan positif.

Kalau Allah dalam surah At-Tin bersumpah dengan At-Tin untuk mengukuhkan informasi-Nya tentang penciptaan manusia dalam fitrah tauhid dan bentuk fisik dan psikis yang sebaik-baiknya, maka Masjid Agung At-Tin ini diharapkan dapat mengejawantahkan fitrah dan penciptaan itu dalam segala bentuk aktifitasnya.

Tidak terbatas pada pembinaan rohani atau ibadah ritual, tetapi mencakup pembinaan manusia seutuhnya, jasmani dan rohani. Sehingga dengan demikian, fungsi dan peranan masjid sebagaimana dilukiskan di atas dapat pula mengejawantahkan dalam kehidupan sehari-hari.

Kalau dalam surah At-Tin itu Allah bersumpah dengan tempat-tempat suci agama-agama besar, maka ini menunjukkan betapa surah At-Tin melukiskan hubungan harmonis antar para Nabi, sekaligus berpesan agar terjalin pula hubungan yang harmonis antar penganut agama-agama besar.

Kendati setelah berlalunya sekian lama kehadiran mereka di pentas bumi ini, dsan telah terjadi perbedaan dalam aqidah dan kepercayaan masing-masing pemeluk agama, namun semua agama itu menuntun dan menuntut manusia agar meraih tingkat manusia seutuhnya atau “ahsan taqwim”.

Dengan demikian, Masjid Agung At-Tin yang namanya di inspirasi oleh surah At-Tin akan selalu mengarahkan pandangan aktifitasnya pada pesan-pesan luhur surah At-Tin itu. Karena itu, Masjid Agung At-Tin ini diharapkan juga menjadi oase spiritual dan sekaligus memberikan pencerahan intelektual.

STRUKTUR ORGANISASI

VISI & MISI

Visi :

” Menjadikan Masjid sebagai Oase Spiritual dan Pencerahan Intelektual”.

Misi :
1. Menjadikan Masjid Agung At-Tin sebagai konsep dan trend masjid masa depan.
2. Meningkatkan kecerdasan intelektual dan spiritual ummat secara terpadu.
3. Wahana pemberdayaan sumber daya umat yang profesional dan ber-akhlakul karimah.

DATA UMUM

  • Arah Qiblat Sertifikat DEPAG : 23 April 1997
  • Koordinat tempat : 06º, 17879 – 106º, 53076
  • Arah Qiblat : 295º, 9′, 54”, 46
  • Mulai Pembangunan : April 1997
  • Peletakan Batu Pertama : 23 Agustus 1997
  • Adzan Pertama : 25 November 1999
  • Soft Opening : 26 November 1999
  • Grand Opening : 26 Desember 1999
  • Luas Tanah : 70.000 m²

Luas Bangunan Masjid

  • Lantai Dasar : 5.030 m²
  • Lantai Satu : 4.350 m²
  • Lantai Mezanine : 2.069 m²
  • Luas Selasar Tertutup : 1.245 m²
  • Luas Plaza Shalat : 5.800 m²

Kapasitas Jama'ah

  • Lantai I & Mezanine : 9.000 orang
  • Lantai Dasar : 5.000 orang
  • Plaza & Selasar Tertutup : 11.850 orang
  • Tinggi Menara Utama : 42 m
  •  

Luas Bangunan Lainnya

  • Gues House : 142 m²
  • Mess Imam dan Muadzin : 243 m²
  • Luas Pujasera : 175 m²
  • Luas Pos Jaga 6 Type : 15,5 m²
  • Luas Bangunan Power House : 132 m²
  • Kapasitas Ground Reservoir : 400 m³

Kapasitas Parkir

  • Mobil Kecil : 350 kendaraan
  • Bus : 10 Kendaraan
  • Motor : 1500  Kendaraan

INTERIOR & EXTERIOR

RUANG LUAR

1. KUBAH

1.1 Visual Arsitektur dan Filosofis

1. Merupakan unsur “Kepala” dari unsur struktur bentuk masjid.
2. Merupakan unsur penting sebagai penanda fungsi berdasarkan persepsi bentuk.
3. Sebagai unsur akhiran bentuk dan sebagai tempat penanda fungsi yang lebih spesifik.
4. Merupakan suatu bagian / unsur kontras yang memberikan keragaman bentuk dalam keselarasan dan keharmonisan suatu wujud yang utuh.Khusus untuk masjid ini kubah merupakan unsur streamline (elastis) yang kontras dengan unsur badan masjid lainnya yang terdiri dari unsur garis yang tegas.
5. Khusus untuk kubah masjid ini terbagi menjadi tiga bagian. Hal ini merupakan penterjemahan perjalanan hidup manusia sebagai hamba Allah dalam tiga alam, yaitu alam rahim, alam dunia, dan alam akhirat.

Garis pembagi antara alam-alam tersebut diekspresikan oleh bidang bukaan horisontal yang di isi oleh elemen fungsional dan estetis yaitu kaca patri.

1.2 Struktur

Struktur kubah memakai struktur rangka ruang/space frame. Struktur ini terpilih karena mempunyai beberapa keunggulan antara lain :

1. Relatif lebih ringan
2. Pemakaian bahan penutup atap lempeng-lempeng enamel mendukung sifat struktur yang ringan.
3. Pengurangan terhadap beban struktur secara keseluruhan sistem.
4. Pemakaian struktur ini yang bobotnya relatif lebih ringan, mendukung terciptanya pembentukan ruang yang bebas kolom.

1.3   Bukaan

Yang dimaksud adalah sebagian dari bidang atap dibuka dan diisi dengan bahan lain yang bersifat transparan dan estetis yaitu kaca patri.

Pola-pola geometrik dengan pemilihan paduan warna khusus yang menjadi acuan rancangan kaca patri tersebut.

Fungsinya adalah untuk memasukkan unsur cahaya sehingga suasana ruang utama lebih terang.    

2. BADAN MASJID

1. Bagian badan masjid memberikan suatu kesan visual yang menutup / mengecil pada bagian atas kemudian membuka pada bagian akhiran.

2. Bagian yang mengecil memberikan persepsi vertikalisme yang mengarah dan mengecil menuju suatu titik pusat.

3. Bagian yang membuka / menengadah memberikan persepsi vertikalisme yang mengarah dan membesar / membuka pada suatu ketidak-terbatasan.

4. Unsur bagian ini terdiri dari unsur-unsur garis tegas vertikal dan diagonal sehingga memberikan kesan kokoh, tegar dan kuat.

5. Unsur badan yang terasa langsung terdiri diatas lansekap tanpa peralihan yang tegas memberikan kesan yang lebih menyatu dengan tanah atau lebih membumi sehingga lebih terasa sesuatu yang muncul dari bawah.

ORNAMEN/ELEMEN ESTETIKA

Konsep Umum

  • Sebagai elemen-elemen geometri yang merupakan salah satu ciri seni Islam.
  • Merupakan penterjemahan atas ketauhidan Allah SWT, yang mengenal ketidak-awalan dan ketidak-akhiran yang diterjemahkan pada pola-pola geometri.

Fungsi

  • Sebagai elemen pengisi sistim bukaan.
  • Sebagai unsur yang mempertegas bentuk (bingkai bukaan ataupun relief)
  • Aksentuasi
  • Pengakhiran

Jenis

  • Menyatu : merupakan permainan bahan yang sejenis, tetapi dalam keragaman warna dan textur (inlay batu alam dua dimensi).
  • Melayang : memberikan kesan ringan dan transparan dalam membatasi ruang yaitu kerawang (beton, besi).
  • Menonjol : memberikan perbedaan wujud 3 dimensi dari bahan dan elemen pembentuk ornamen (relief).
  • Transparan : melalui media cahaya akan terasa wujud estetikanya (secara dua dimensi) tetapi tidak membatasi kontinuitas visual (kaca patri). Melalui media cahaya akan terasa wujud estetika baik secara dua dimensi (backlight) ataupun tiga dimensi (direct lighting) tetapi kontinuitas visual dan udara tetap bebas (kerawangan).

RUANG DALAM

I. Lantai Bawah / Lantai Dasar

Lantai bawah berfungsi sebagai :

  • Hall / Ruang Tangga Utama
  • Ruang wudhu pria dan wanita
  • Ruang pendidikan / audio visual
  • Ruang perpustakaan
  • Ruang VIP & Pengurus
  • Ruang Serbaguna
  • Ruang Pengajian / Seminar
  • Ruang Pengelola

Skala ruang manusiawi dengan pengertian ruang-ruang yang terbentuk kontekstual terhadap skala ruang yang diinginkan. Penzonaannya adalah dibagian depan sebagai ruang penerima (ruang tangga umum), bagian tengah area serba guna dan area wudhu, sedang bagian belakang adalah ruang tunggu VIP. Khusus bagian tengah terbagi lagi atas area basah yaitu area wudhu dan area kering adalah serba guna.

II. Lantai Atas

Lantai Shalat Utama

Lantai atas berfungsi sebagai ruang shalat utama dan ruang pengelola. Suasana interior secara garis besar terbagi atas dua zona dibawah mezanine dan ruang besar berkubah.

Pada ruang dibawah mezanine akan terjadi pengaruh psikologis yang memberikan perasaan tertekan atau depresi sehingga memberikan pengaruh terhadap keleluasaaan konsentrasi.

Sedang pada ruang tengah yang berkubah akan terjadi pengaruh psikologi yang menimbulkan perasaan kerdil / kecil karena manusia berada pada ruang yang sangat besar atau dengan perkataan lain berada pada ruang dengan skala monumental. Ruang kubah ini sekaligus merupakan klimaks dari urutan keseluruhan perjalanan pada area masjid.

Kubah masjid ini merupakan penerjemahan dari perwujudan garis lengkung (belong to God). Unsur kubah ini juga merupakan bentuk garis lengkung yang tak terhingga menuju satu pusat pengakhiran. Hal ini menterjemahkan hubungan ketauhidan manusia terhadap Allah Swt.

Allah (pemberi) cahaya kepada langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang didalamnya ada pelita besar. Pelita itu didalam tabung kaca dan kaca-kaca itu seakan-akan bintang yang bercahaya seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, (yaitu) pohon zaitu yang tumbuh tidak disebelah timur dan tidak pula disebelah barat-Nya yang minyaknya saja hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api.

Cahaya diatas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa saja yang Dia kehendaki, dan Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu ( Q.S. An-Nur : 35).

III. SARANA SIRKULASI

Sarana sirkulasi utama adalah tangga selain tangga terdapat juga escalator dan ramp. Letak tangga tersebut, escalator dan ramp terletak di hall utama.

IV. RUANG TANGGA

Ruang tangga diekspresikan secara terpisah dari bangunan utama, hal ini lebih pada pertimbangan estetis arsitektural yaitu sebagai elemen pengimbang dan pengarah, sedang dari segi tampak merupakan elemen vertikal yang cukup kuat dan membentuk “sky line” yang harmonis.

V. MENARA

Menara Tunggal

Fungsi utama adalah tempat menyimpan peralatan sound system yang berupa alat pengeras suara agar suara adzan dapat terdengar lebih jauh dan jelas.

Dari sisi arsitektural merupakan elemen identitas masjid, sedang dari sisi tata letak merupakan elemen “eye cather” yang cukup komunikatif karena letaknya dihalaman depan.

Unsur vertikal ini merupakan gambaran hubungan antara manusia dengan sang Kholiq yaitu Allah Swt.

VI. SELASAR TERTUTUP DAN PLAZA MASJID

Fungsi utamanya adalah sebagai sarana sirkulasi horisontal yang terlindung dari hujan dan panas. Dari segi arsitektur merupakan elemen arsitektur yang berskala manusia, berfungsi sebagai pembatas ruang transisi (plaza shalat) yang memberikan kesan “surprising” dalam perjalanan menuju bangunan utama. Sedangkan plaza shalat merupakan tempat shalat di saat jamaah “luber” misalnya pada saat shalat jum’at atau shalat Hari Raya. Tangga keliling pada selasar ini merupakan elemen arsitektural yang memberikan kesan monumental untuk menuju bangunan utama.

VII. LANSEKAP

1. “Dan kami hamparkan bumi itu dan kami letakkan padanya gunung-gunung yang kokoh dan kami tumbuhkan padanya tanaman yang indah dipandang mata” (Q.S : 50:7).

Lansekap Masjid ini diwujudkan sebagai penghayatan rasa syukur manusia melalui keindahan makhluk ciptaan-Nya. Salah satu unsur lansekap yang cukup khas karakternya adalah air “Dan Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa dan adalah singgasana-Nya (sebelum itu) diatas air, agar Dia menguji siapakah diantara kamu yang lebih baik amalnya” (Q.S. Hud :7).

Unsur air pada lansekap menciptakan suasana kesejukan (dingin), beriak dan pantulannya memberikan imajinasi tak terbatas atas kekuasaan-Nya, dan dari airlah segala kehidupan dimulai yang harus kita pikirkan untuk menciptakan rasa syukur atas kekuasaan Allah pencipta langit dan seisinya.

“Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya. Dan daripada air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman (Q.S. 21:30).

2. Orientasi

Pada komplek Masjid ini diberikan kejelasan dan kemudahan sirkulasi sebagai orientasi pada kegiatan didalamnya dengan penggunaan hirarki dan meterial yang berbeda sesuai fungsinya.

“Yang menjadikan bumi untuk kami sebagai tempat menetap dan Dia membuat jalan-jalan diatas bumi untuk kami, supaya kamu mendapat petunjuk” (Q.S 43:10).