INTERIOR & EXTERIOR

KONSEP PERENCANAAN

 I. Ruang Luar

  1. KUBAH

1.1   Visual Arsitektur dan Filosofis

Kubah AT-TIN
KUBAH AT-TIN
  1. Merupakan unsur “Kepala” dari unsur struktur bentuk masjid.
  2. Merupakan unsur penting sebagai penanda fungsi berdasarkan persepsi bentuk.
  3. Sebagai unsur akhiran bentuk dan sebagai tempat penanda fungsi yang lebih spesifik.
  4. Merupakan suatu bagian / unsur kontras yang memberikan keragaman bentuk dalam keselarasan dan keharmonisan suatu wujud yang utuh. Khusus untuk masjid ini kubah merupakan unsur streamline (elastis) yang kontras dengan unsur badan masjid lainnya yang terdiri dari unsur garis yang tegas.
  5. Khusus untuk kubah masjid ini terbagi menjadi tiga bagian. Hal ini merupakan penterjemahan perjalanan hidup manusia sebagai hamba Allah dalam tiga alam, yaitu alam rahim, alam dunia, dan alam akhirat.

Garis pembagi antara alam-alam tersebut diekspresikan oleh bidang bukaan horisontal yang di isi oleh elemen fungsional dan estetis yaitu kaca patri.

1.2   Struktur

Struktur kubah memakai struktur rangka ruang/space frame. Struktur ini terpilih karena mempunyai beberapa keunggulan antara lain :

  1. Relatif lebih ringan
  2. Pemakaian bahan penutup atap lempeng-lempeng enamel mendukung sifat struktur yang ringan.
  3. Pengurangan terhadap beban struktur secara keseluruhan sistem.
  4. Pemakaian struktur ini yang bobotnya relatif lebih ringan, mendukung terciptanya pembentukan ruang yang bebas kolom.

1.3   Bukaan

Yang dimaksud adalah sebagian dari bidang atap dibuka dan diisi dengan bahan lain yang bersifat transparan dan estetis yaitu kaca patri. Pola-pola geometrik dengan pemilihan paduan warna khusus yang menjadi acuan rancangan kaca patri tersebut. Fungsinya adalah untuk memasukkan unsur cahaya sehingga suasana ruang utama lebih terang.    

  2. BADAN MASJID

  1. Bagian badan masjid memberikan suatu kesan visual yang menutup / mengecil pada bagian atas kemudian membuka pada bagian akhiran.
  2. Bagian yang mengecil memberikan persepsi vertikalisme yang mengarah dan mengecil menuju suatu titik pusat.
  3. Bagian yang membuka / menengadah memberikan persepsi vertikalisme yang mengarah dan membesar / membuka pada suatu ketidak-terbatasan.
  4. Unsur bagian ini terdiri dari unsur-unsur garis tegas vertikal dan diagonal sehingga memberikan kesan kokoh, tegar dan kuat.
  5. Unsur badan yang terasa langsung terdiri diatas lansekap tanpa peralihan yang tegas memberikan kesan yang lebih menyatu dengan tanah atau lebih membumi sehingga lebih terasa sesuatu yang muncul dari bawah.

ORNAMEN/ELEMEN ESTETIKA

Konsep Umum

  • Sebagai elemen-elemen geometri yang merupakan salah satu ciri seni Islam.
  • Merupakan penterjemahan atas ketauhidan Allah SWT, yang mengenal ketidak-awalan dan ketidak-akhiran yang diterjemahkan pada pola-pola geometri.

Fungsi

  • Sebagai elemen pengisi sistim bukaan.
  • Sebagai unsur yang mempertegas bentuk (bingkai bukaan ataupun relief)
  • Aksentuasi
  • Pengakhiran

Jenis

  • Menyatu : merupakan permainan bahan yang sejenis, tetapi dalam keragaman warna dan textur (inlay batu alam dua dimensi).
  • Melayang : memberikan kesan ringan dan transparan dalam membatasi ruang yaitu kerawang (beton, besi).
  • Menonjol : memberikan perbedaan wujud 3 dimensi dari bahan dan elemen pembentuk ornamen (relief).
  • Transparan : melalui media cahaya akan terasa wujud estetikanya (secara dua dimensi) tetapi tidak membatasi kontinuitas visual (kaca patri). Melalui media cahaya akan terasa wujud estetika baik secara dua dimensi (backlight) ataupun tiga dimensi (direct lighting) tetapi kontinuitas visual dan udara tetap bebas (kerawangan).

II. RUANG DALAM

1. Lantai Bawah / Lantai Dasar

Lantai bawah berfungsi sebagai :

  • Hall / Ruang Tangga Utama
  • Ruang wudhu pria dan wanita
  • Ruang pendidikan / audio visual
  • Ruang perpustakaan
  • Ruang VIP & Pengurus
  • Ruang Serbaguna
  • Ruang Pengajian / Seminar
  • Ruang Pengelola

Skala ruang manusiawi dengan pengertian ruang-ruang yang terbentuk kontekstual terhadap skala ruang yang diinginkan. Penzonaannya adalah dibagian depan sebagai ruang penerima (ruang tangga umum), bagian tengah area serba guna dan area wudhu, sedang bagian belakang adalah ruang tunggu VIP. Khusus bagian tengah terbagi lagi atas area basah yaitu area wudhu dan area kering adalah serba guna.

2. Lantai Atas

dalam masjid
LANTAI SHALAT UTAMA

Lantai atas berfungsi sebagai ruang shalat utama dan ruang pengelola. Suasana interior secara garis besar terbagi atas dua zona dibawah mezanine dan ruang besar berkubah.

Pada ruang dibawah mezanine akan terjadi pengaruh psikologis yang memberikan perasaan tertekan atau depresi sehingga memberikan pengaruh terhadap keleluasaaan konsentrasi.

Sedang pada ruang tengah yang berkubah akan terjadi pengaruh psikologi yang menimbulkan perasaan kerdil / kecil karena manusia berada pada ruang yang sangat besar atau dengan perkataan lain berada pada ruang dengan skala monumental. Ruang kubah ini sekaligus merupakan klimaks dari urutan keseluruhan perjalanan pada area masjid.

Kubah masjid ini merupakan penerjemahan dari perwujudan garis lengkung (belong to God). Unsur kubah ini juga merupakan bentuk garis lengkung yang tak terhingga menuju satu pusat pengakhiran. Hal ini menterjemahkan hubungan ketauhidan manusia terhadap Allah Swt.

Allah (pemberi) cahaya kepada langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang didalamnya ada pelita besar. Pelita itu didalam tabung kaca dan kaca-kaca itu seakan-akan bintang yang bercahaya seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, (yaitu) pohon zaitu yang tumbuh tidak disebelah timur dan tidak pula disebelah barat-Nya yang minyaknya saja hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya diatas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa saja yang Dia kehendaki, dan Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu ( Q.S. An-Nur : 35).

III. SARANA SIRKULASI

Sarana sirkulasi utama adalah tangga selain tangga terdapat juga escalator dan ramp. Letak tangga tersebut, escalator dan ramp terletak di hall utama.

IV. RUANG TANGGA

Ruang tangga diekspresikan secara terpisah dari bangunan utama, hal ini lebih pada pertimbangan estetis arsitektural yaitu sebagai elemen pengimbang dan pengarah, sedang dari segi tampak merupakan elemen vertikal yang cukup kuat dan membentuk “sky line” yang harmonis.

V. MENARA

Fungsi utama adalah tempat menyimpan peralatan sound system yang berupa alat pengeras suara agar suara adzan dapat terdengar lebih jauh dan jelas. Dari sisi arsitektural merupakan elemen identitas masjid, sedang dari sisi tata letak merupakan elemen “eye cather” yang cukup komunikatif karena letaknya dihalaman depan. Unsur vertikal ini merupakan gambaran hubungan antara manusia dengan sang Kholiq yaitu Allah Swt.

VI. SELASAR TERTUTUP DAN PLAZA MASJID

Fungsi utamanya adalah sebagai sarana sirkulasi horisontal yang terlindung dari hujan dan panas. Dari segi arsitektur merupakan elemen arsitektur yang berskala manusia, berfungsi sebagai pembatas ruang transisi (plaza shalat) yang memberikan kesan “surprising” dalam perjalanan menuju bangunan utama. Sedangkan plaza shalat merupakan tempat shalat di saat jamaah “luber” misalnya pada saat shalat jum’at atau shalat Hari Raya. Tangga keliling pada selasar ini merupakan elemen arsitektural yang memberikan kesan monumental untuk menuju bangunan utama.

VII. LANSEKAP

1. “Dan kami hamparkan bumi itu dan kami letakkan padanya gunung-gunung yang kokoh dan kami tumbuhkan padanya tanaman yang indah dipandang mata” (Q.S : 50:7).

Lansekap Masjid ini diwujudkan sebagai penghayatan rasa syukur manusia melalui keindahan makhluk ciptaan-Nya. Salah satu unsur lansekap yang cukup khas karakternya adalah air “Dan Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa dan adalah singgasana-Nya (sebelum itu) diatas air, agar Dia menguji siapakah diantara kamu yang lebih baik amalnya” (Q.S. Hud :7).

Unsur air pada lansekap menciptakan suasana kesejukan (dingin), beriak dan pantulannya memberikan imajinasi tak terbatas atas kekuasaan-Nya, dan dari airlah segala kehidupan dimulai yang harus kita pikirkan untuk menciptakan rasa syukur atas kekuasaan Allah pencipta langit dan seisinya.

“Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya. Dan daripada air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman (Q.S. 21:30).

2. Orientasi

Pada komplek Masjid ini diberikan kejelasan dan kemudahan sirkulasi sebagai orientasi pada kegiatan didalamnya dengan penggunaan hirarki dan meterial yang berbeda sesuai fungsinya.

“Yang menjadikan bumi untuk kami sebagai tempat menetap dan Dia membuat jalan-jalan diatas bumi untuk kami, supaya kamu mendapat petunjuk” (Q.S 43:10).

 

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *