PROFIL

Masjid Agung At-Tin
MASJID AGUNG AT-TIN

Masjid ini dibangun sebagai upaya dari sebuah keluarga yang ingin mendo’akan ibunda mereka sebagai tanda perwujudan rasa cinta yang tulus dan suci kepada orang tua meraka.

Rasulullah SAW bersabda : Apabila anak Adam meninggal, maka putuslah segala amal dan perbuatannya, kecuali tiga perkara yaitu Shadaqoh (termasuk membangun masjid), ilmu yang bermanfaat dan anak soleh yang mendoakan ibu-bapaknya (H.R. Muslim).

Pemberian nama Masjid ini dengan nama AT-TIN yakni Tin, yang diantara ayat-Nya menyebutkan penciptaan manusia sebagai ciptaan yang paling canggih, paling sempurna, paling etis. “Laqod Kholaqnal Insana fii ahsani taqwim” Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.

Namun buah Tin, buah yang sangat lezat dan manis itu, akan cepat buruk, busuk, berulat, jika tidak dipelihara. Manusia juga demikian, itulah sebabnya setiap muslim kemudian diperintah untuk menghiasi hidupnya dengan iman dan amalan-amalan soleh yang harus dimulai sejak dini, kanak-kanak dan secara terus-menerus serta konsisten hingga akhir hayat tiba.

Bagi keluarga yang membangun masjid ini, pemilihan nama Masjid Agung At-Tin yang diilhami dari surat At-Tin, kemudian juga mengingatkan kepada ibunda yang sangat mereka cintai, yakni Ibu Hj. Fatimah Siti Hartinah Soeharto (Ibu Hj. Tien Soeharto), maka hal itu adalah suatu kebetulan yang harus disyukuri pula.

Demi At-Tin, Az-Zaitun, Thur Sina, dan Kota (Mekkah) yang aman ini. Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk fisik yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan ia ke tempat yang serendah-rendahnya, kecuali orang-orang beriman dan beramal shaleh…(Q.S. At-Tin :1-7).

Masjid terambil dari akar kata sujud yang berarti taat, patuh, dan tunduk dengan penuh hormat. Meletakkan dahi, kedua telapak tangan dan jari-jari kaki adalah bentuk lahiriah yang paling nyata dari makna-makna diatas. Dari sini bangunan yang secara umum digunakan untuk sujud, shalat dan mengabdi kepada Allah, Tuhan Yang Maha Esa, dinamai masjid, yang juga terambil dari akar kata sujud.

Dari akar katanya, dipahami bahwa masjid bukan hanya berfungsi sebagai tempat meletakkan dahi yakni sujud dalam bentuk shalat, tetapi juga adalah tempat melakukan aktifitas yang mengandung makna kepatuhan kepada Allah SWT, atau paling tidak tempat mendorong lahirnya aktifitas yang menghasilkan kepatuhan kepada-Nya. Karena itu, Nabi Muhammad SAW bersabda, “telah dijadikan untukku dan umatku seluruh persada bumi sebagai masjid dan sarana penyucian”. (H.R. Bukhori dan Muslim melalui Jabir bin Abdillah). Disini sekali lagi, bertemu dengan kata sujud dan masjid, dan terpadunya aktifitas sujud yakni kepatuhan kepada Allah dan fungsi serta peranan masjid.

Semua yang dapat mengantar manusia pada kepatuhan kepada Allah merupakan bagian dari aktifitas kemasjidan. Karena itu, dimasa Rasulullah SAW, Masjid Nabawi di Madinah memiliki tidak kurang dari sepuluh fungsi, dan berperan sebagai tempat :

  • Shalat dan zikir
  • Pendidikan
  • Santunan Sosial
  • Konsultasi dan komunikasi ekonomi, sosial, budaya.
  • Pengadilan dan Penyelesaian sengketa
  • Pusat Penerangan
  • Latihan Militer
  • Tahanan
  • Tempat Penampungan

Kesemuanya diarahkan sesuai dengan keberadaan masjid sebagai tempat sujud kepada Allah dalam pengertiannya yang luas.

Tentu saja dewasa ini, akibat perubahan zaman dan perkembangan masyarakat, sebagian fungsi-fungsi tersebut telah diambil oleh lembaga-lembaaga lain. Kendati demikian, paling tidak dari masjid harus lahir uraian dan aktifitas yang mengarahkan manusia kepada sujud, patuh dan tunduk kepada Allah SWT, karena semua masjid adalah milik-Nya. Firman Allah SWT “Dan sesungguhnya masjid-masjid adalah milik Allah, maka janganlah engkau menyembah bersama Allah sesuatu sembahan pun”. (Q.S. Al-Jin :18)

Memilih nama bagi sesuatu antara lain untuk menggambarkan sifat dan fungsi utamanya, harapan-harapan yang dikandung dari kehadirannya, sekaligus mengingatkan pemberi dan penerima nama tentang fungsi dan harapan-harapan itu.

Masjid Agung At-Tin itulah nama yang dipilih untuk masjid ini. Nama itu sama dengan dan diinspirasi oleh nama salah satu surah Al-Qur’an yakni surah At-Tin yang merupakan wahyu ke-27 yang diterima oleh Nabi Muhammad SAW dan surah ke-95 dari segi runtutan penulisannya dalam Al-Qur’an.

pohon Tin
POHON TIN

At-Tin adalah sejenis buah, bahkan salah satu buah yang terbaik. Banyak manfaatnya, baik sebelum matang maupun sesudahnya, lezat rasanya, sangat manis, penuh gizi, mudah memakan dan mencernanya dan tanpa biji yang perlu dibuang. Khasiatnya tidak sedikit, antara lain memperlancar darah, menghancurkan batu disaluran kencing, mengencerkan dahak, dan masih banyak lagi lainnya.

Konon, ketika Adam dan pasangannya, mencicipi buah terlarangdi surga, yang mengakibatkan mereka telanjang, mereka menggunakan daun pohon At-Tin untuk menutup apa yang nampak dari aurat mereka (Q.S Al-A’raf :22). Demikian At-Tin mereka manfaatkan untuk menutup aurat yang nampak atau dampak buruk dari ulah setan.

Pernah ketika Nabi Muhammad SAW dihadiahkan sekeranjang buah Tin, beliau makan dan mempersilahkan sekeliling beliau memakannya sambil bersabda, “seandainya saya berkata ada buah yang turun dari surga, maka buah inilah yang saya sebut”.

Tetapi ada sisi lain dari buah ini yang tidak ditemukan dari banyak buah, yaitu bila telah membusuk salah satu bagiannya, maka ia sudah tidak dapat dimakan atau dimanfaatkan, dan seluruhnya harus dibuang. Persis seperti manusia, jika hatinya telah rusak, maka tidak akan ada lagi manfaatnya. “Sesungguhnya dalam diri manusia ada segumpal daging, kalau baik, baiklah seluruh tubuh”. atau seperti manusia yang dikembalikan Allah ke asfala safilin (Q.S At-Tin :6) yakni kepada keadaan ketika ruh Ilahi belum lagi dihembuskan dan menyatu dalam diri manusia. Ketika itu, manusia baru berbentuk fisik manusia. Ia baru tercipta dari debu tanah, yang hanya mendorongnya untuk memenuhi kebutuhan jasmani terlepas dari dorongan ruh Ilahi.

Sebagian Mufassir mengatakan bahwa At-Tin adalah “Masjid Ashabul Kahfi”. Ibnu Abbas, seorang penafsir besar, mengatakan bahwa At-Tin adalah masjid yang letaknya berada di Damsyiq (Dimasyq). Dengan demikian, sumpah Allah tentang penciptaan manusia dalam bentuk fisik dan psikis yang sebaik-baiknya dikukuhkan dengan menyebut tempat-tempat tokoh agama terbesar dewasa ini, mendapat bimbingan ilahi.

Memang inti pesan surah Ats-Tin adalah hakekat fitrah yang lurus, yang atas dasarnya Allah menciptakan manusia serta kesesuaian unsur dasar naluri manusia dengan substansi iman, demikian tulis Sayyid Qutub dalam tafsirnya. Dengan kata lain, inti pesannya adalah tauhid,yakni kepercayaan akan ke-esaan Allah SWT yang merupakan hakekat yang melekat pada diri setiap insan. Itulah yang menjadikan makhluk ini berpotensi untuk mencapai tingkat ahsan taqwim, yaitu bentuk fisik dan psikis yang sebaik-baiknya. Karena itu, surah At-Tin ini sekaligus juga menjelaskan hakekat manusia sebagai satu-satunya makhluk eksitensialis. Martabat manusia bisa naik menjadi makhluk utama (ahsan taqwim) dasn bisa turun menjadi makhluk hina (asfala safilin).

NAMA AT-TINPenamaan masjid ini dengan Masjid At-Tin melukiskan peran utama yang diembannya, yaitu memelihara dan mengaktualkan fitrah kesucian yang melekat pada jiwa manusia guna melahirkan kegiatan-kegiatan positif.

Kalau Allah dalam surah At-Tin bersumpah dengan At-Tin untuk mengukuhkan informasi-Nya tentang penciptaan manusia dalam fitrah tauhid dan bentuk fisik dan psikis yang sebaik-baiknya, maka Masjid Agung At-Tin ini diharapkan dapat mengejawantahkan fitrah dan penciptaan itu dalam segala bentuk aktifitasnya. Tidak terbatas pada pembinaan rohani atau ibadah ritual, tetapi mencakup pembinaan manusia seutuhnya, jasmani dan rohani. Sehingga dengan demikian, fungsi dan peranan masjid sebagaimana dilukiskan di atas dapat pula mengejawantahkan dalam kehidupan sehari-hari.

Kalau dalam surah At-Tin itu Allah bersumpah dengan tempat-tempat suci agama-agama besar, maka ini menunjukkan betapa surah At-Tin melukiskan hubungan harmonis antar para Nabi, sekaligus berpesan agar terjalin pula hubungan yang harmonis antar penganut agama-agama besar. Kendati setelah berlalunya sekian lama kehadiran mereka di pentas bumi ini, dsan telah terjadi perbedaan dalam aqidah dan kepercayaan masing-masing pemeluk agama, namun semua agama itu menuntun dan menuntut manusia agar meraih tingkat manusia seutuhnya atau “ahsan taqwim”.

Dengan demikian, Masjid Agung At-Tin yang namanya di inspirasi oleh surah At-Tin akan selalu mengarahkan pandangan aktifitasnya pada pesan-pesan luhur surah At-Tin itu. Karena itu, Masjid Agung At-Tin ini diharapkan juga menjadi oase spiritual dan sekaligus memberikan pencerahan intelektual.

 

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *